Apa Itu Gaya Hidup Minimalis?

Cewek tidur main handphone
Ilustrasi seorang perempuan sedang memainkan handphone di atas kasur (Photo by Gaelle Marcel on Unsplash)

Sejak bangun tidur langsung kepikiran kerjaan apa yang belum kelar, kamar dan rumah belum diberesin, habis mandi mau pakai baju apa, mau makan apa, tanaman belum disiram, kucing belum dikasih makan, dan masih banyak lagi sampai bikin kamu pengin rebah lagi di kasur sambil pantengin iklan-iklan di Instagram yang bikin ngiler.

Rasanya, kalimat “24 jam sehari itu kurang” memang sangat relate dengan kehidupan sekarang yang super sibuk. Walaupun tubuh sedang istirahat, otak sering kali tetap sibuk memikirkan hal-hal ke depan—mulai dari yang penting sampai yang paling sepele sekalipun. Coba kalian berhenti sejenak dan berpikir, sebenarnya hal apa sih yang paling banyak memenuhi pikiran kita sampai bikin kepala nyut-nyutan? Kalau saja sebagian pikiran ini bisa diminimalkan atau bahkan dihapuskan, mungkin menjalani satu hari akan jadi lebih mudah. The good news is… bisa banget, kok!

Gaya hidup minimalis atau minimalism lifestyle menjadi salah satu jawaban bagi kepenatan hidup masyarakat modern yang mulai banyak diminati saat ini. Mungkin kamu pun sedang mempertimbangkan untuk “menganut” gaya hidup ini karena alasan “kamar/rumah sumpek dan berantakan”, “di lemari banyak baju, tapi kok gak ada yang bagus?”, “tabungan bocor halus karena pengin ini itu”, atau lainnya. Sebelum kamu terjun langsung buat ubrak-abrik barang-barang di rumah ala Marie Kondo, coba ketahui dulu yuk apa itu gaya hidup minimalis.

Istilah “Minimalism

Pada awal 1960-an di New York, AS, minimalism mulanya berkembang sebagai sebuah gerakan dalam bidang seni. Munculnya gerakan ini merupakan wujud ketidakpuasan beberapa seniman terhadap seni ekspresionisme abstrak (berkembang pada 1950-an) yang mereka anggap terlalu personal dan tidak substansial. Para seniman minimalist ini meyakini bahwa sebuah karya seni harus dinikmati secara murni dan apa adanya. Dalam lukisan, mereka biasanya menggunakan teknik hard-edge painting, bentuk yang simpel dan linear, dan menekankan pada visual dua dimensi. Salah satu lukisan yang tercatat sebagai gebrakan minimalism adalah Black Paintings karya Frank Stella.

The Marriage of Reason and Squalor by Frank Stella
The Marriage of Reason and Squalor, II (source: Medium)

Tidak berhenti sampai pada karya seni dan desain, pada 2000-an minimalism berkembang menjadi istilah gaya hidup yang dipopulerkan oleh para blogger. Para praktisi gaya hidup minimalis ini berusaha untuk hidup dengan sesedikit mungkin barang—pakaian, furnitur, perabotan, dan lainnya—yang mereka anggap penting/butuh.

Makna Gaya Hidup Minimalis

Menurut saya pribadi, gaya hidup minimalis berarti secara sadar menaruh perhatian lebih pada setiap apa pun yang kita miliki dan menetapkan batasan cukup bagi kebutuhan pribadi. Sejak saya kecil (sebelum gaya hidup minimalis jadi tren seperti sekarang), orang tua saya selalu mengajarkan untuk jangan membeli barang hanya karena pengin dan setiap saya minta untuk dibelikan sesuatu pasti mama selalu bertanya, “Memangnya kamu butuh?” atau “Kamu kan sudah punya.” Kebayang ya berapa banyak rengekan dan tangisan yang saya lakukan karena sulit sekali mendapatkan sesuatu hanya karena pengin.

Namun, setelah puluhan tahun berlalu, banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan dari pengalaman tersebut. Di masa remaja (bahkan kadang sampai saat ini) tentu saya pernah melakukan pembelian secara impulsif (impulsive buying), entah karena produk sedang diskon, tiba-tiba merasa butuh, atau perasaan senang yang timbul setelah pembelian. Sayangnya, semua itu kebanyakan hanya berakhir jadi sarang debu di rumah. Berbeda dengan pembelian barang-barang yang memang (benar) kita butuhkan, barang itu secara sukarela akan dirawat, dipakai terus-menerus, dan dimaksimalkan daya gunanya—tanpa penyesalan.

Selain belajar menahan diri untuk tidak impulsive buying, saya juga belajar bahwa ada usaha dan biaya yang perlu dikeluarkan untuk bisa mempunyai barang baru. “Ah, cuma 30 ribu, beli aja deh”, “Gpp sekali-sekali biar hepi”, inilah pikiran-pikiran setan yang sering kali muncul saat asyik lihat-lihat Tokop***a, Sh***e, Za***a, dkk. Iya sih murah, iya sih katanya sekali-sekali, tapi kalau (murah + sekali-sekalinya) x tiap minggu = tabungan bocor halus. Sedih dong, sudah capek-capek kerja buat tungguin transfer gaji di akhir bulan cuma habis buat kesenangan sementara. Akan lebih bermakna dan fullfilling jika usaha dan biaya kita sebagian besarnya dipakai untuk hal-hal yang lebih berguna atau persiapan di masa depan.

Online shopping, belanja online, impulsive buying
Ilustrasi kemudahan belanja di zaman sekarang lewat online shopping (Image by Preis_King from Pixabay)

Lebih jauh lagi tentang makna gaya hidup minimalis, menurut salah satu Bapak Minimalism di zaman modern ini, Joshua Becker, ada delapan definisi singkat untuk menjelaskan minimalism:

  1. Minimalism is owning fewer possessions
  2. It is intentionality
  3. It is freedom from the passion to possess
  4. It is freedom from modern mania
  5. It is freedom from duplicity
  6. It is counter-cultural
  7. It is not external but internal
  8. It is completely achievable

Tidak berbeda jauh dengan Becker, Joshua & Ryan The Minimalists yang juga mengartikan minimalism sebagai alat untuk melepaskan diri dari segala sesuatu yang berlebihan dalam hidup demi fokus pada apa yang benar-benar penting—sehingga kamu dapat menemukan kebahagiaan, kepenuhan (fulfillment), dan kebebasan.

Sederhananya, gaya hidup minimalis atau minimalism adalah pilihan cara hidup dengan #YangPerluPerluAja. Dalam pilihan gaya hidup ini kita berusaha menginternalisasi apa yang benar-benar kita butuhkan untuk hidup secara baik dan cukup, serta membebaskan diri kita dari berbagai beban eksternal.

Hidup Minimalis dan Miskin Beda Tipis?

Dulu saya dan teman saya sering melontarkan lelucon ini, “Minimalis sama miskin beda-beda tipis ya hahaha…” tapi apakah iya? Saya pun iseng-iseng cari tahu tentang perbandingan ini di internet dan menemukan istilah frugality atau frugal living. Ternyata saya menemukan beberapa blog yang membedakan dan bahkan menyatukan gaya hidup minimalis dan ‘ekonomis’ ini, loh.

Natalie Bacon, seorang certified Life Coach dan Financial Planner, menuliskan bahwa perbedaan paling utama dari minimalism dan frugality terlihat jelas dari cara pikirnya. Minimalism menitikberatkan usaha mereka untuk mengurangi kuantitas kepemilikan barang, sedangkan frugality atau frugal living menitikberatkan usaha mereka untuk mengurangi jumlah uang yang dikeluarkan. Contohnya seperti ini, Ani dan Susan hendak membeli sepatu baru di toko yang sama. Toko ini sedang ada promo menarik, yakni beli 2 dengan harga 1 sepatu. Salah satu syarat dari promo ini adalah jenis sepatu sudah ditentukan oleh pihak toko dan pembeli hanya bisa memilih ukurannya saja. Tanpa ragu, Ani langsung membeli paket promo, sedangkan Susan karena hanya butuh sepasang sepatu, iya membeli sepatu di luar paket promo. Jadi, siapakah yang menggunakan cara pikir minimalism atau frugality di antara keduanya? Tepat sekali! Ani menerapkan frugality untuk memaksimalkan pengeluarannya, sedangkan Susan menerapkan minimalism dengan berkukuh pada kebutuhannya.

Kermit belanja sepatu, shopping, savings, money
Ilustasi seseorang yang hendak pergi belanja (Image by Alexas_Fotos from Pixabay)

Perbedaan lainnya yang bisa terlihat dari contoh Ani dan Susan adalah Ani tidak mempermasalahkan kuantitas dua pasang sepatu dengan harga sepasang yang akan dia bawa pulang, sedangkan Susan hanya akan membawa pulang sepasang sepatu dengan harga normal sesuai kebutuhannya. Ini sesuai dengan artikel yang pernah ditulis Trent Hamm di The Simple Dollar kalau concern utama minimalism bukan terletak pada jumlah uang yang dikeluarkan, melainkan kuantitas barang, sedangkan frugality tidak serta merta menolak/menghindari akumulasi barang selama bisa didapatkan dengan penawaran harga terbaik.

Meski ada beberapa perbedaan cara pikir antara minimalism dan frugality, saya menemukan beberapa blogger yang menyebut dirinya sebagai Frugal Minimalist. Jadi, sangat mungkin bagi seseorang untuk mengadaptasi gaya hidup minimalism dan frugality secara bersamaan. Selengkapnya mengenai gaya hidup ini bisa kamu baca lebih lanjut di Hello Brownlow, The Minimalist Vegan, Little House Living, Minimalism Made Simple, dan Lyfe with Less.

Kesimpulannya

Gaya hidup minimalis adalah salah satu pilihan cara hidup yang lebih berkesadaran terhadap barang yang kita miliki sesuai dengan kebutuhan. Belajar membuat batasan cukup untuk kepemilikan barang sesuai dengan kebutuhan kita mampu meringankan beberapa beban maupun kesulitan hidup sehari-hari. Kita mungkin jadi tidak perlu repot lagi beres-beres rumah, pilih outfit of the day, cari barang yang diperlukan entah terkubur di mana, dan banyak lagi.

Ini baru the tip of the iceberg dari gaya hidup minimalis. Dampak jangka panjangnya, kita jadi lebih mengenal prioritas dalam hidup kita, menjadi lebih bahagia, dan membebaskan diri dari berbagai faktor eksternal dalam hidup yang kurang penting bagi diri kita.

Baik gaya hidup minimalis maupun ekonomis (Frugal Living) bagi saya adalah sebuah seni menahan diri. Menahan diri tidak selamanya berarti menyiksa diri dan membuat kehidupan sehari-hari jadi lebih susah. Tidak ada batasan-batasan yang kaku dalam gaya hidup ini dan bisa diadaptasi sesuai dengan keseharian kita dan tujuan yang hendak kita capai. Pada akhirnya semua dilakukan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Penulis: Maggie Pranata

I find joy through writing & sharing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s